
Jakarta-JATIMTERKINI.COM: Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS makin longsor setiap harinya. Kini, sudah tembus Rp18.000 per Dolar AS.
Mengutip Bloomberg, Kamis (4/6/2026) pagi, rupiah sudah di atas Rp18.023 per dolar AS. Nilai rupiah melemah 57 poin dari posisi penutupan perdagangan kemarin.
Sebelumnya, Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor dalam negeri maupun luar negeri.
“Dari dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi oleh meningkatnya inflasi Indonesia pada Mei 2026,” kata Ibrahim.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan sebesar 0,28 persen, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,13 persen.
Kenaikan inflasi didorong oleh naiknya harga pangan, energi, tarif yang diatur pemerintah, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Selain itu, Indonesia memang masih mencatat surplus neraca perdagangan pada April 2026 sebesar 89,1 juta dolar AS. Namun, angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
“Namun kalau di lihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat selat hormuz di blokade oleh pasukan garda revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali,” terang Ibrahim.
Dari sisi eksternal, pasar keuangan global masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Israel masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan, sementara Iran dan Amerika Serikat masih berupaya mencapai kesepakatan untuk meredakan konflik yang terjadi.
Ketidakpastian tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu kekhawatiran inflasi global akan kembali meningkat.
Di saat yang sama, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat. Hal ini membuat pelaku pasar memperkirakan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.
Penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi tersebut turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. (red)

