
Jakarta-JATIMTERKINI.COM: Nilai tukar rupiah pada Senin pagi bergerak melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin bergerak melemah seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap era suku bunga tinggi akibat ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang menyebabkan harga minyak mentah naik.
IHSG dibuka melemah 94,34 poin atau 1,40 persen ke posisi 6.628,98. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 9,37 poin atau 1,42 persen ke posisi 648,51.
“Diperkirakan jika IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500- 6.550 pada pekan ini,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari mancanegara ,konflik antara AS dengan Iran masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks bursa global selama pekan ini, di tengah naik turunnya eskalasi antara kedua negara tersebut.
Yield US Treasury mengalami peningkatan, dengan tenor 30 tahun mencapai 5,1 persen, di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga global akibat kenaikan harga minyak mentah.
Pelaku pasar akan mencermati rilis FOMC Minutes dari bank sentral AS The Fed, yang mana pelaku pasar mencari indikasi arah suku bunga setelah data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan.
Sementara itu, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa adanya kesepakatan besar, sehingga membuat pelaku pasar kecewa.
Dari China, pelaku akan mencermati sejumlah data ekonomi, seperti industrial production dan retail sales. Bank Sentral China (PBoC) diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman utama 1 tahun dan 5 tahun masing-masing tetap di level 3 persen dan 3,5 persen.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate tetap di 4,75 persen pada Rabu (20/5).
Selain itu, pelaku pasar akan mencermati rilis pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I-2026, serta M2 Money Supply selama pekan ini.
Sementara itu, FTSE Russell menyatakan telah meninjau perkembangan pasar modal Indonesia, namun masih menunda pemeringkatan ulang indeks secara penuh, kenaikan free float dan penambahan saham baru (IPO) hingga review September 2026.
Pada perdagangan Jumat (15/05) pekan kemarin, bursa saham Eropa kompak melemah, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 1,81 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,71 persen, indeks DAX Jerman melemah 2,07 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 1,60 persen.
Bursa AS Wall Street juga kompak melemah pada Jumat (15/05), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 1,07 persen ke 49.526,17, indeks S&P 500 melemah 1,24 persen ke 7.408,50, dan indeks Nasdaq Composite melemah 1,54 persen ke 29.125,20.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 591,79 poin atau 0,96 persen ke 60.817,50, indeks Shanghai melemah 8,13 poin atau 0,21 persen ke 4.126,51, indeks Hang Seng melemah 375,23 poin atau 1,45 persen ke 25.587,50, dan indeks Strait Times melemah 16,56 poin atau 0,33 persen ke 4.972,5.

