JATIMTERKINI.COM: Pemilihan ajang bergengsi Cak & Yuk Gresik akhirnya diprotes oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Gresik. Bahkan, MUI meminta agar panitia segera meminta maaf.
Aksi protes MUI itu lantaran adanya lirik lagu yang tidak tepat dan penyajian busana terbuka atau terkesan vulgar.
“Iya ini mencederai marwah Gresik sebagai Kota Santri dan Kota para wali. Panitianya harus segera minta maaf,” tegas Ketua MUI Gresik KH Manshoer Shodiq, dilansir detikJatim.
Dikatakan Mansoer, meski promosi kuliner khas terlihat bagus, namun penyebutan sate babi dalam lirik lagu saat Grand Final Duta Pariwisata di kota yang dikenal sebagai kota para wali sangat memprihatinkan.
Untuk itu, Mansoer meminta agar lagu itu segera dilakukan revisi.
“Kalau memang hendak digunakan dalam promosi wisata di Gresik, harusnya direvisi atau diedit dan dipotong soal makanan haram yang disebutkan dalam lagu itu,” kata dia.
Pemilihan lagu dengan lirik ‘Sate Babi’, lanjut dia, tsangat tidak tepat jika digunakan untuk mempromosikan Kota Gresik. Pasalnya, selama ini Gresik dikenal dengan masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai agama dan akhlakul karimah.
“Meski lagu tersebut merupakan lagu kolonial. Namun jika diangkat lagi ke masa kini, apalagi dalam kegiatan pemilihan duta pariwisata itu perlu diperhatikan budaya lokal. Nanti akan kami bahas lebih lanjut di MUI,” paparnya.
Diketahui, acara Grand Final Cak Yuk Gresik menampilkan keberagaman etnis di Kabupaten Gresik. Beberapa iringan lagu juga disesuaikan dengan etnis-etnis yang ada di Kota Pudak.
Seperti Kolonial, Tionghoa, Arab, Pribumi. Termasuk diputarnya lagu lawas berjudul ‘Geef Mij Maar Nasi Goreng’. Lagu itu adalah testimoni seorang wanita Belanda kelahiran Surabaya soal kuliner Surabaya.
Tidak hanya lagu dengan lirik Sate Babi, MUI juga menyayangkan penampilan finalis Cak Yuk yang menggunakan pakaian terbuka. Bahkan pakaian tersebut terlihat dada. Hal itu dianggap tidak mencerminkan Gresik sebagai Kota Santri dan Kota Wali. (ruh)

