
Sidoarjo-JATIMTERKINI.COM: Peace Goes To School The Series digelar kali kedua di SMP Widya Wiyata Sidoarjo yang digagas oleh Peace Leader Indonesia dan didukung Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia.
Program yang mengusung tema Memberdayakan Pemuda Pembangun Perdamaian, Membentuk Masa Depan Inklusif ini serempak pula dilaksanakan di 10 wilayah/kota di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, lingkungan pendidikan di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan serius, seperti perundungan, intoleransi, kekerasan seksual, dan kekerasan berbasis gender. Fenomena ini menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi peserta didik, guru, dan warga sekolah lainnya. Dampak dari kondisi tersebut tidak hanya dirasakan secara individu, seperti gangguan kesehatan mental, menurunnya rasa aman, dan terhambatnya proses belajar, tetapi juga memengaruhi iklim sekolah dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Isu tersebut telah menjadi perhatian nasional dan dirumuskan dalam kebijakan pendidikan melalui penetapan “Tiga Dosa Besar Pendidikan”, yaitu perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi, yang sejak tahun 2023 menjadi fokus prioritas Kementerian Pendidikan.
Komitmen ini diperkuat dengan diterbitkannya Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP). Kebijakan ini menegaskan bahwa penghapusan kekerasan dan intoleransi di sekolah merupakan bagian penting dari transformasi pendidikan nasional, bukan sekadar agenda moral, melainkan upaya strategis untuk melindungi hak dan martabat peserta didik.
Dalam konteks tersebut, Program Peace Goes to School The Series (PGS) hadir sebagai upaya strategis untuk mendukung gerakan nasional penghapusan Tiga Dosa Besar Pendidikan melalui pendekatan yang partisipatif, dialogis, dan berkelanjutan. Peace Leader Indonesia, gerakan anak muda lintas iman dan lintas latar belakang, dengan dukungan AMAN Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan perdamaian, penguatan kepemimpinan perempuan dan anak muda, serta advokasi isu perdamaian dan keamanan.
“PGS dirancang untuk memperkuat pemahaman siswa dan guru tentang nilai perdamaian, toleransi, kesetaraan gender, serta keterampilan resolusi konflik non-kekerasan,” ujar Nur Kholifah, Ketua Bidang Program.

Inayah Sri Wardhani, selaku kepala sekolah sekaligus penasehat Peace Leader Indonesia menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah salah satu upaya sekolah untuk memberikan wawasan kepada siswa pentingnya pencegahan perundungan dan menciptakan ruang aman di sekolah.
“Penilaian dalam kegiatan ini mungkin tidak ada di rapor peserta didik namun sekolah menilai hal ini penting dilakukan untuk membentuk karakter berbudi pekerti luhur yang selaras dengan misi sekolah”, jelasnya.
Program ditutup dengan Student Ambassador for Peace. Yakni, pemilihan 4 orang duta perdamaian sekolah dengan 4 kategori, diantaranaya Peace, Tolerance, Equality, dan Inclusivity. Penilaian yang dilakukan sepanjang proses pelatihan berupa penilaian kemampuan bekerjasama dalam tim, public speaking, dan kreatifitas.
“Kegiatan ini membuat saya terharu hingga menangis melihat kepedulian anak-anak pada temannya yang istimewa dengan melibatkan mereka dalam proyek dan tercermin saat presentasi kelompok. Ini adalah bukti keberhasilan pendidikan karakter di sekolah yang menjunjung tinggi inklusifitas dan toleransi”, kata Ken Maritiningrum, Komite Sekolah.
PGS menjadi ruang kolaboratif yang mendorong penguatan daya kritis, empati, dan kepemimpinan damai, sekaligus membuka ruang dialog yang setara di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan ini, Peace Goes to School The Series diharapkan dapat berkontribusi nyata dalam membangun budaya sekolah yang aman dan berkelanjutan, serta mendukung integrasi nilai-nilai perdamaian dan keberagaman dalam praktik pendidikan nasional. (red)

