JatimTerkini.com
EkbisHeadline JTJatimProbolinggoTerkini

Sebelum Lebaran, Jalur KRL Surabaya-Probolinggo Dibuka

Surabaya-JATIMTERKINI.COM: Tidak lama lagi, warga Jawa Timur dapat segera merasakan kemudahan transportasi massal dengan rencana pengoperasian Kereta Rel Listrik (KRL) atau commuter line pada rute Surabaya-Probolinggo. Layanan ditargetkan beroperasi sebelum Lebaran 2026.

Hal ini berdasarkan hasil audiensi Pemerintah Kota Probolinggo dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Target waktu ini memberikan kepastian dan terkait dengan momentum mudik yang padat.

Setelah disetujuinya usulan perpanjangan pelayanan kereta api commuter line dari titik akhirnya di Pasuruan sampai ke Stasiun Probolinggo oleh Kemenhub, Wali Kota Probolinggo H. Aminuddin Ibnu Mutawakkil langsung menggelar audiensi dengan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub di Jakarta untuk mempercepat realisasinya.

“Ini akan memberikan manfaat besar bagi ribuan masyarakat yang setiap hari melakukan perjalanan rutin (commuter) antarwilayah dari Kota Probolinggo menuju Surabaya untuk bekerja atau keperluan lain,” kata Wali Kota Probolinggo H. Aminuddin Ibnu Mutawakkil dalam keterangannya, dikutip Minggu (11/1/2026).

Menurut dia, dengan kehadiran layanan itu maka mobilitas masyarakat semakin mudah, cepat dan aman, sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat melalui akses transportasi yang lebih efektif dan konektivitas wilayah semakin terintegrasi mendukung sektor wisata. Perpanjangan rute ini akan memperkuat integrasi ekonomi Gerbangkertosusila (Grebang) dengan wilayah tapal kuda Jawa Timur.

Sementara Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Dr. Ir. Allan Tandiono, M.Sc., menyatakan dukungan atas usulan Pemkot Probolinggo. Ia menyebut timnya akan secara serius menelaah potensi dan kelayakan teknis perpanjangan rute hingga Stasiun Probolinggo.

“Kami akan melihat kesiapan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dalam persiapan sarananya. Di sisi lain, kami memastikan commuter line yang sudah ada, standar pelayanan tetap terjaga. Apabila ada perpanjangan dan ada sarana yang perlu ditambahkan, akan dievaluasi bersama,” katanya.

Menurut dia, Probolinggo bukan hanya tempat masyarakat berangkat bekerja saja, tetapi tujuan lain ada tempat wisata di sekitar Kota Probolinggo. Kota ini juga memiliki daya tarik wisata seperti Gunung Bromo dan kawasan pantai, serta pusat perbelanjaan yang ramai. Sebelum Lebaran 2026 direalisasikan bisa membantu mengurai kepadatan arus mudik dan liburan.

“Ada target, kami realisasikan sebelum Lebaran. Mohon bantuan Pak Wali dan tim, setelah rapat bisa koordinasi dengan KCI dan PT KAI untuk persiapan prasarananya karena dengan perpanjangan itu, Stasiun Probolinggo lebih ramai, sehingga perlu ditambah pelayanan tempat duduk dan toilet,” papar Allan.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Direktorat Jenderal Kereta Api Kemenhub Ir. Arif Anwar, M.Si., mengungkapkan perpanjangan relasi commuter dari Pasuruan ke Stasiun Probolinggo berjarak sekitar 38,6 kilometer dan permohonan perpanjangan rute itu didasari beberapa potensi seperti yang disampaikan oleh wali kota, seperti tingginya okupansi penumpang ke Stasiun Probolinggo yang bekerja dan sekadar rekreasi.

Dia mengatakan ada beberapa potensi di sekitar Stasiun Probolinggo yang dilayani beberapa kereta kelas ekonomi, bisnis hingga eksekutif ini yakni KA Pendalungan, Blambangan Ekspres, Logawa, Ranggajati, Wijaya Kusuma, Sri Tanjung, Probowangi, Mutiara Timur, dan Tawangalun.

“Demand cukup bagus. Di Probolinggo volume turun naik dari kereta-kereta yang melayani, jumlahnya cukup besar. Pada Januari hingga November 2025 ada 15.722 penumpang yang turun dan naik di Probolinggo,” katanya. Data ini menunjukkan potensi permintaan yang nyata untuk layanan commuter yang lebih sering.

Dalam rangka realisasi perpanjangan relasi commuter Surabaya-Pasuruan, ada beberapa hal yang harus disiapkan, suatu kajian untuk melihat seperti apa potensi yang ada kaitan dengan commuter line di sisi penumpang dan sarana. Kajian Pemkot Probolinggo bersama PT KAI dan PT KCI diperlukan untuk melihat perkembangan dan operasional yang diterapkan.

“Selain studi dan analisis, perlu melihat SPM (Standar Pelayanan Minimal)-nya. Penyesuaian izin operasi baru juga harus disesuaikan, penyesuaian PSO (Public Service Obligation) sehingga anggaran perlu disesuaikan juga,” ujarnya.

Kemenhub telah menyiapkan skema operasional sementara, yaitu dua perjalanan pulang-pergi sehari. Rencananya, KRL pertama berangkat dari Surabaya pagi sangat awal, pukul 01.50 WIB, dan tiba di Stasiun Probolinggo pukul 03.45 WIB.

Kemudian berangkat dari Stasiun Probolinggo pukul 04.10 WIB, tiba di Surabaya pukul 06.42 WIB. Keberangkatan malam dari Surabaya pukul 21.22 WIB, tiba di Stasiun Probolinggo pukul 23.36 WIB. Jadwal ini dirancang untuk melayani pekerja yang harus berangkat sangat pagi dan pulang setelah malam. (rsk)