
Jakarta-JATIMTERKINI.COM: Perempuan Jaga Indonesia mendesak demokrasi harus berjalan, namun tanpa kekerasan. Hal itu disampaikan menyusul aksi demontrasi di Tanah Air.
Perempuan Jaga Indonesia adalah sekumpulan individu yang peduli dengan penyampaian pendapat dengan demokrasi, untuk keadilan sosial di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut Perempuan Jaga Indonesia juga menyampaikan duka cita atas korban-korban meninggal maupun luka-luka lainnya pada peristiwa terjadinya penyampaian pendapat dengan demokrasi dalam bentuk demonstrasi di berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari tanggal 25 Agustus 2025 hingga saat ini.
“Saudara almarhum Affan Kurniawan, mitra Gojek, kemudian saudari almarhum Syahrinawati, Staf DPRD Makassar yang terbakar hidup-hidup saat bertugas di Kantor DPRD, beliau adalah rakyat Indonesia yang bekerja sebagai staf dan memiliki hak yang sama dengan seluruh warga negara Indonesia. Di samping itu juga ditemukannya peserta demonstrasi yang merupakan anak-anak dibawah umur, termasuk anak SMP yang bergabung demo atas dasar ajakan tanpa izin orang tua. Saat ini anak-anak dan orang tua dalam kondisi ketakutan yang mendalam. Kami Perempuan Indonesia, tidak bisa berdiam diri melihat sesama perempuan, anak kecil, keluarga, dan sesama rakyat terus menjadi korban, orang sakit dan ibu yang hendak melahirkan kesulitan mengakses layanan kesehatan karena situasi yang rentan membahayakan keselamatan dirinya. Maka kami bersumpah menjaga Ibu Pertiwi, menjaga rakyat dan tanah air Indonesia, yang adil, makmur dan berkelanjutan,” ungkapnya dalam keterangan tertulisnya.
Perempuan Jaga Indonesia mendesak dan menyerukan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Legislatif, sebagai berikut:
1. Hentikan penggunaan kekerasan dalam memberikan pengamanan.
2. Pulihkan rasa aman di tengah-tengah masyarakat.
3. Segera pastikan perlindungan terhadap perempuan, anak, buruh, migran, kelompok disabilitas dan kelompok rentan lainnya di tengah situasi kekacauan.
4. Jamin pemenuhan HAM Warga Negara Indonesia, seperti dalam berekspresi dan menyampaikan pendapatnya.
5. Bangun komunikasi dengan rakyat, membangun ruang dialog dengan rakyat.
6. Pastikan tidak ada kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, anak, dan kelompok rentan selama kegiatan penyampaian aspirasi Warga Negara Indonesia.
“Mari kita saling jaga, jaga keluarga dan kerabat, jaga tetangga dekat dan teman sejawat. Jaga Ibu Pertiwi kita yang tercinta,” tulisnya. (red)

