JatimTerkini.com
PendidikanSidoarjo

Penerapan Pipa Biopori oleh Dosen Untag untuk Atasi Genangan Air di Desa Kalipecabean, Sidoarjo

jatimterkini.com – Permasalahan banjir dan genangan air menjadi isu utama yang dihadapi warga Desa Kalipecabean, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, terutama saat musim hujan dan fenomena rob terjadi bersamaan. Melihat urgensi tersebut, tim dosen dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mengenalkan dan memasang inovasi pipa biopori sebagai salah satu solusi lingkungan yang sederhana, murah, dan berkelanjutan.

Desa Kalipecabean secara geografis terletak di dataran rendah dan terbelah oleh aliran Sungai Bakepok. Lokasinya yang berada di antara sungai dan laut membuat desa ini rawan tergenang, terlebih saat curah hujan tinggi bersamaan dengan pasangnya air laut.

“Kondisi kita ini pasang surut, sehingga air bisa datang dari laut maupun dari curah hujan. Ketika keduanya datang bersamaan, air tidak bisa mengalir keluar karena sungainya sudah penuh,” jelas Maskup Murdiono, Sekretaris Desa Kalipecabean.

Selama ini, pemerintah desa telah melakukan berbagai upaya seperti peninggian jalan dan perbaikan saluran air, namun genangan air tetap menjadi masalah tahunan. Oleh karena itu, pendekatan inovatif dibutuhkan untuk meningkatkan daya resap air ke dalam tanah.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 16 Mei 2025, tim pengabdian memasang pipa biopori di area sekitar kantor desa yang kerap menjadi langganan genangan. Ketua tim pengabdian menjelaskan bahwa pipa biopori ini dipasang sedalam 50 cm dan diberi lubang pada sisi-sisinya untuk membantu air meresap secara alami ke dalam tanah.

“Pipa biopori ini selain sebagai penyerapan, juga berfungsi untuk pengolahan sampah organik menjadi kompos secara alami,” ujar Ketua Tim Pengabdian.

Metode ini dipilih karena dianggap lebih efisien dan cocok dengan kondisi tanah di Kalipecabean yang memiliki lapisan resapan optimal pada kedalaman 50 cm. Selain itu, pendekatan ini juga lebih murah dan mudah dalam implementasi maupun perawatannya.

Respon masyarakat terhadap kegiatan ini pun positif. Veni Sandra, salah satu warga, menyampaikan bahwa banjir kerap menyulitkan aktivitas warga, bahkan sempat membuat lingkungannya terendam selama dua minggu penuh pada awal tahun 2025.

“Alhamdulillah, kalau bisa sih semua rumah dipasangi biopori. Yang penting dirawat juga, karena kalau tidak dirawat ya percuma,” ungkapnya.

Dukungan juga datang dari pemerintah desa yang siap menindaklanjuti bila hasilnya efektif. Soleh, Kepala Dusun, mengapresiasi partisipasi tim pengabdian karena dinilai sangat relevan dengan kebutuhan desa.

“Setiap tahun sini banjir karena jadi tempat pembuangan terakhir dari Jombang dan Mojokerto. Kami sangat terbantu dengan adanya alat ini,” jelasnya.

Selain menargetkan penurunan volume genangan air, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya perawatan fasilitas lingkungan dan gotong royong dalam menjaga sistem resapan yang sudah dibangun.

Jika uji coba ini membuahkan hasil positif, tim pengabdian berencana mengembangkan penerapannya ke fasilitas umum lain seperti sekolah, tempat ibadah, hingga rumah-rumah warga secara menyeluruh.

“Kami berharap program ini bisa menjadi solusi jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup warga,” tutup Ketua Tim Pengabdian. (*)