JatimTerkini.com
EkbisHeadline JTJakartaTerkini

SBY: Pembangunan Ekonomi Tak Hanya Bicara Angka, tapi Kemampuan Melindungi Masyarakat dari Krisis

Jakarta-JATIMTERKINI.COM: Lemahnya nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global jadi perhatian serius dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak lagi cukup dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan apabila tidak dibarengi pemerataan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan SBY saat menjadi pembicara dalam ajang The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta.

Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi Indonesia dan negara-negara berkembang saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi.

“Pertumbuhan saja tidak lagi cukup. Sebuah negara bisa mencatat pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, tetapi tetap menghadapi ketimpangan yang melebar, menurunnya kepercayaan masyarakat, dan fragmentasi sosial,” terangnya.

Pernyataan itu muncul di tengah sorotan terhadap kondisi ekonomi nasional, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus menghadapi tantangan akibat gejolak global. SBY menilai pemerintah harus lebih fokus membangun ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan agar mampu menghadapi berbagai risiko masa depan.

Dikatakan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut, pembangunan ekonomi modern tidak hanya berbicara soal investasi dan angka pertumbuhan, tetapi juga kemampuan negara melindungi masyarakat dari dampak krisis global, perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga disrupsi teknologi.

SBY juga menyoroti pentingnya memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia menilai UMKM merupakan tulang punggung ekonomi rakyat yang mampu memperluas inklusi ekonomi sekaligus meningkatkan daya tahan masyarakat di tingkat akar rumput.

“UMKM bukan hanya penggerak ekonomi, tetapi juga instrumen penting untuk menciptakan pemerataan dan memperkuat fondasi ekonomi nasional,” ujarnya.

Ia memaparkan, SBY mengingatkan bahwa negara-negara Asia harus segera bertransformasi. Ketergantungan pada tenaga kerja murah, komoditas, dan konsumsi domestik tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan global.

Menurutnya, masa depan ekonomi akan ditentukan oleh kemampuan berinovasi, meningkatkan produktivitas, mengembangkan kewirausahaan, memanfaatkan digitalisasi, serta berinvestasi pada kualitas sumber daya manusia.

“Di masa depan, daya saing tidak lagi bergantung pada siapa yang memproduksi lebih murah. Daya saing akan bergantung pada siapa yang mampu beradaptasi dengan cepat, terus berinovasi, dan berinvestasi pada manusia,” tandasnya.

Pernyataan SBY menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak cukup diukur dari pertumbuhan semata. Ketika rupiah menghadapi tekanan dan ketidakpastian global meningkat, kualitas pembangunan dan kesejahteraan masyarakat menjadi ujian sesungguhnya bagi arah ekonomi Indonesia.

(red)