JatimTerkini.com
HukrimPeristiwaSurabaya

Masih Jadi Misteri Pelajar SMK yang Tewas di Sukomanunggal Jaya. Keluarga Tuntut Keadilan Agar Fakta Tidak Ditutupi, Buka Rekaman CCTV

Surabaya, jatimterkini – Sembari berucap lirih dengan tatapan mata yang sayu dan berkaca-kaca, seolah tak kuasa menahan kepiluan yang dialaminya, Achmad Tony Suliono, Ayah Muhammad Dito Alviansyah (19), pelajar SMK yang ditemukan tewas bersama M Fahmi temannya yang mengalami luka serius di Jalan Sukomanunggal Jaya masih menjadi misteri.

Ketika mendatangi pada tahlilan malam kelima yang digelar Selasa (28/1/2025), masih terlihat karangan bunga ucapan belasungkawa dari Walikota dan Wakil Walikota Surabaya Eri Cahyadi dan Armudji serta beberapa karangan bunga duka lainnya tampak berjejer di depan rumah duka di Jalan Manukan Dono.

Tony tak menyangka anak pertamanya harus meninggalkannya dengan secepat itu dengan meninggalkan kesedihan dan kepiluan yang mendalam. Sebelum peristiwa itu, Tony mengaku mempunyai firasat namun tak disadarinya.

Achmad Tony Suliono, Ayah Muhammad Dito Alviansyah (19) ketika membawa foto almarhum

“2 hari sebelum kejadian dia sempat bilang lelah dan ingin bekerja, dan waktu itu nemuin saya di tempat kerja untuk minta uang. Dan sehari sebelum peristiwa terjadi, handphone habis saya charge,  saya letakkan tiba-tiba jatuh berantankan padahal saya letakkan tidak kepinggir, tapi tiba-tiba jatuh, LCD nya hancur berantakan, dan ketika kejadian itu saya juga tidak bisa dihubungi oleh siapapun termasuk adiknya,” ujarnya lirih menahan sedih.

Sebelum Tony meneruskan ceritanya, suasana haru kembali mengusiknya tatkala teman-teman almarhum Dito pada saat peristiwa itu terjadi datang ikut tahlilan, sontak raut wajah Tony tampak tak bisa disembunyikan menahan air mata ketika menyalami satu-persatu.

“Sejak saya bercerai dengan ibunya, sisi emosionalnya goyah dan labil. Namun dia anak baik dan penurut. Sejak ikut saya waktu masuk SMK, dia sempat terhenti setahun karena keterbatasan biaya ekonomi saya. Dia menerima dengan kondisi itu dan tidak aneh-aneh,” cerita Tony yang bekerja di Sekuriti TPA Benowo ini.

Tony juga mengungkapkan dengan menghela napas panjang, sebelum kejadian itu, almarhum dipanggil pihak sekolah karena mempunyai tanggungan sekolah yang harus dilunasi.

“Saya berjanji pada dia nanti lebaran ketika mendapatkan satu kali gaji penuh atau tunjangan hari raya, akan saya bayarkan semua, namun takdir berkata lain,” urai Tony lirih lagi.

Ketika kejadian itu, sambung Tony, dia sempat pamit akan takziah pukul 20.00 bersama teman-temannya, karena handphone-nya jatuh dan diservis sehingga dirinya tidak bisa dihubungi.

“Saya baru tahu peristiwa itu ketika adeknya Zidan nyamperin di tempat kerja saya pukul 04.00 sambil menangis, ngabari kalau kakaknya meninggal. Saat itu saya langsung drop, lemes diam tak bisa berkata-kata,” cerita Tony dengan suara serak.

Yang membuat Tony semakin tak bisa menahan rasa pilunya ketika jenazah Dito tiba dirumah diantar ambulans dan dimandikannya, Tony tak bisa menyembunyikan beragam perasaan berkecamuk sebagai orang tua.

“Saya pengen nangis tak bisa nangis melihat kondisi anak saya tak tega dengan kepalanya tepos, ada benjolan merah dan rahangnya patah. Saya hanya minta keadilan, dibuka fakta yang sebenarnya jangan ditutup-tutupi. Buka rekaman CCTV,” kata Toni tegas.

Dalam kesempatan lain, Kanit Reskrim Polsek Sukomanunggal, Ipda Eko Yudha Prasetyo saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa yang menimbulkan korban jiwa dan korban luka serius di Jalan Sukomanunggal Jaya pada Sabtu (25/1/2025) dini hari.

“Betul mas, masih didalami,” pungkasnya.

Namun saat dikonfirmasi lebih jauh pendalaman yang dilakukan mulai dari olah tempat kejadian perkara (TKP), keterangan saksi-saksi dan rekaman CCTV, Ipda Eko tidak merespon. (Yanuar)