JatimTerkini.com
Headline JTJatimOpiniPendidikanSurabayaTerkini

Mahasiswa, Lagu Nasional, dan Krisis Karakter Kebangsaan di Era Algoritma Digital

Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd. ialah dosen UWKS, komponis, peneliti seni dan budaya. (Foto: Ist)

DI TENGAH derasnya arus digitalisasi, mahasiswa Indonesia hidup dalam lingkungan budaya yang semakin ditentukan oleh algoritma. Setiap hari media sosial, platform streaming, dan berbagai aplikasi digital mengarahkan apa yang didengar, ditonton, dibicarakan, bahkan dianggap penting oleh generasi muda.

Fenomena ini melahirkan pertanyaan mendasar: masihkah lagu-lagu nasional memiliki ruang dalam kehidupan mahasiswa saat ini?

Realitas menunjukkan bahwa banyak mahasiswa lebih mengenal lagu-lagu yang sedang viral di media sosial dibandingkan lagu-lagu nasional yang menjadi bagian dari identitas bangsa. Tidak sedikit mahasiswa yang mampu menghafal lirik lagu populer dari berbagai negara, tetapi kesulitan menyebutkan atau menyanyikan lagu-lagu nasional selain Indonesia Raya.

Padahal, negara telah menempatkan lagu kebangsaan dan simbol-simbol nasional sebagai sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa Indonesia. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori enkulturasi yang dikemukakan Margaret Mead. Menurut teori ini, budaya diwariskan melalui proses pembiasaan dan pengalaman yang berlangsung terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai kebangsaan tidak lahir secara otomatis, tetapi tumbuh melalui simbol-simbol budaya yang terus hadir dalam ruang sosial masyarakat. Ketika lagu nasional semakin jarang diperdengarkan di kampus, media massa, maupun ruang publik, maka proses pewarisan nilai kebangsaan juga mengalami pelemahan.

Pierre Bourdieu menyebut, simbol-simbol budaya sebagai modal budaya (cultural capital). Lagu nasional merupakan salah satu modal budaya bangsa yang berfungsi membentuk identitas, karakter, dan rasa memiliki terhadap negara.

Apabila generasi muda kehilangan kedekatan dengan lagu nasional, maka bangsa Indonesia sedang menghadapi risiko berkurangnya salah satu instrumen penting pembentuk identitas nasional. Pandangan ini diperkuat oleh Benedict Anderson melalui konsep imagined community.

Bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan juta penduduk dapat merasa sebagai satu kesatuan karena memiliki simbol-simbol bersama, sejarah bersama, dan pengalaman kolektif yang sama. Lagu nasional merupakan salah satu simbol yang selama ini memperkuat kesadaran kebangsaan tersebut.

Ketika simbol itu semakin jarang hadir dalam kehidupan sehari-hari, maka ikatan emosional terhadap bangsa berpotensi mengalami pengikisan secara perlahan. Di sisi lain, Antonio Gramsci menjelaskan bahwa budaya dapat dikuasai melalui hegemoni. Dalam konteks kekinian, hegemoni tersebut tidak lagi hanya dilakukan oleh kekuatan politik atau ekonomi, tetapi juga oleh algoritma digital.

Algoritma bekerja berdasarkan popularitas, interaksi, dan kepentingan pasar. Ia tidak memiliki tanggung jawab untuk menjaga identitas kebangsaan. Akibatnya, ruang dengar mahasiswa lebih banyak dipenuhi konten hiburan global dibandingkan simbol-simbol budaya nasional.

Inilah yang kemudian memunculkan krisis karakter kebangsaan. Krisis ini bukan berarti mahasiswa tidak mencintai Indonesia, melainkan semakin berkurangnya ruang budaya yang secara rutin mempertemukan generasi muda dengan simbol-simbol kebangsaan. Karakter kebangsaan tidak dibangun hanya melalui ceramah, slogan, atau hafalan. Karakter tumbuh melalui pengalaman budaya yang terus diulang, dirasakan, dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, perguruan tinggi perlu mengambil peran strategis dalam menghidupkan kembali lagu nasional sebagai bagian dari budaya akademik. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memperdengarkan lagu-lagu nasional melalui sistem pengeras suara kampus pada awal aktivitas perkuliahan setiap pagi. Pemutaran dapat dilakukan secara bergiliran dengan menghadirkan berbagai lagu nasional dan lagu perjuangan yang sarat nilai kebangsaan.

Kedua, perguruan tinggi dapat menetapkan satu hari dalam setiap pekan sebagai Hari Lagu Nasional Kampus. Pada hari tersebut, lagu-lagu nasional diperdengarkan di berbagai ruang publik kampus seperti halaman, perpustakaan, kantin, dan pusat layanan mahasiswa. Kehadiran lagu nasional dalam ruang keseharian akan membantu mengembalikan fungsi budaya yang selama ini semakin memudar.

Ketiga, mahasiswa perlu dilibatkan secara aktif melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang seni dan musik untuk mengembangkan aransemen baru lagu-lagu nasional, yang sesuai dengan karakter generasi muda tanpa menghilangkan nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Festival lagu nasional, konser kampus, lomba aransemen, hingga pertunjukan musik tematik dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendekatkan kembali mahasiswa dengan warisan musikal bangsanya.

Keempat, mata kuliah Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, maupun Pendidikan Karakter dapat mengintegrasikan pembahasan mengenai sejarah, filosofi, dan pesan moral yang terkandung dalam lagu-lagu nasional. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mendengar lagu tersebut, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

Kelima, kampus perlu memanfaatkan media digital sebagai ruang baru penguatan karakter kebangsaan. Konten kreatif mengenai lagu nasional, kisah para komponis Indonesia, serta nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam karya-karya tersebut dapat dipublikasikan secara aktif melalui media sosial kampus. Dengan cara ini, perguruan tinggi tidak melawan perkembangan teknologi, tetapi memanfaatkannya sebagai sarana pelestarian budaya.

Jika kampus ingin melahirkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus kokoh dalam identitas kebangsaannya, maka lagu nasional harus kembali hidup sebagai budaya akademik, bukan sekadar protokol kenegaraan. Tantangan terbesar hari ini bukanlah menjaga lagu nasional sebagai arsip sejarah, melainkan mengembalikannya sebagai bunyi yang hidup, didengar, dipahami, dan dirasakan maknanya oleh mahasiswa Indonesia.

Sebab, ketika lagu nasional tidak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari generasi muda, yang sesungguhnya sedang memudar bukan hanya sebuah lagu, melainkan ruang kebangsaan yang selama ini menyatukan kita sebagai bangsa.

Tentang Penulis; Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd. ialah dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), komponis, peneliti seni dan budaya, serta Dewan Kebudayaan Surabaya Bidang Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan. Fokus kajiannya meliputi pendidikan karakter, psikologi bunyi dan musik, kebudayaan, serta penguatan identitas kebangsaan melalui pendekatan pendidikan dan seni budaya. (**)