
Jombang-JATIMTERKINI.COM: Di tengah gempuran gengsi gelar akademik, seorang pria tua di Blora, Jawa Tengah, memilih jalan yang tak lazim. Ia adalah Dr. Soesilo Toer, doktor lulusan Uni Soviet era Presiden Soekarno, adik kandung sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer, yang fasih 5 bahasa. Ia kini hidup sebagai pemulung.
Bukan karena tak mampu, melainkan karena sebuah pilihan sadar yang menampar realitas.
Soesilo bukanlah orang sembarangan. Rekam jejak pendidikannya mentereng. Ia merupakan lulusan Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1962. Karena prestasinya, ia menjadi salah satu putra terbaik bangsa yang terpilih untuk menimba ilmu ke luar negeri di era Orde Lama.
Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Persahabatan Rakyat Patrice Lumumba, Rusia, dan lulus pada 1967. Tak berhenti di situ, karena nilainya yang cemerlang, ia wajib menjalani praktik selama dua tahun sebelum melanjutkan program doktoral di Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov, Russian University of Economics. Gelar Doktor pun ia raih pada tahun 1971.
“Saya lulusan UI tahun ’62, lulusan Lumumba tahun ’67, karena nilai saya cumlaude, saya harus praktek 2 tahun kemudian masuk pasca sarjana S3 itu di Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov, dan tahun ’71 lulus,” ungkap Soesilo.
Pulang Sebagai Tahanan
Sebagai mahasiswa pilihan Soekarno, ia diproyeksikan pulang untuk membangun Indonesia. Namun, kepulangan pada tahun 1973 justru berujung pahit. Ia ditahan oleh rezim yang berkuasa saat itu hanya karena persoalan administratif.
“Pada tahun ’73 saya pulang kemudian ditahan dan dibebaskan ramai-ramai, paspor saya lupa saya perpanjang waktu itu,” kenangnya.
Bekal 5 bahasa yang ia kuasai — Indonesia, Inggris, Rusia, Jerman, dan Belanda — seolah tak berarti di tanah kelahirannya sendiri.
2 Kilogram Botol dan Sebuah Kemerdekaan
Kini, di usianya yang senja, Soesilo justru menemukan kemerdekaan yang sesungguhnya di jalanan. Setiap malam, ia memulung botol plastik. Minimal 2 kilogram ia kumpulkan semalam.
Bagi kebanyakan orang, itu adalah pekerjaan hina. Bagi Soesilo, itu adalah sebuah kebanggaan.
“Minimum dalam semalam saya dapat botol plastik itu 2 kg, sebuah profesi penyelamat dunia itu,” ujarnya.
Ada kepuasan batin yang tak bisa dibeli dengan ijazah doktor. Menjadi pemulung, menurutnya, adalah pekerjaan paling jujur. Tidak ada intrik, tidak ada penjilatan, dan yang paling penting, tidak perlu merendahkan diri dengan surat lamaran kerja.
Di tengah negara yang kerap menyia-nyiakan orang-orang cerdasnya, Soesilo Toer telah menemukan caranya sendiri untuk tetap bermartabat: menyelamatkan dunia, dua kilogram setiap malam. (red)

