SURABAYA, jatimterkini – Peluang kopi Jawa Timur menembus pasar Eropa, khususnya Belanda kembali terbuka. Sekitar 30 pelaku usaha kopi Jawa Timur dari sektor hulu hingga hilir bertemu dengan pengusaha kopi asal Belanda, Batavia Roast, di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Rabu (2/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ajang untuk memperkenalkan potensi kopi Jawa Timur sekaligus membahas peluang ekspor ke Belanda, mulai dari ketersediaan komoditas, kualitas produk, hingga aturan yang harus dipenuhi untuk memasuki pasar Eropa.
Founder Batavia Roast, Jan Bakker, mengatakan kedatangannya ke Jawa Timur salah satunya untuk memperkenalkan perusahaan sekaligus menjajaki potensi kerja sama dengan petani dan pelaku usaha kopi di daerah.
Batavia Roast ingin membangun akses pasar Eropa secara lebih langsung bagi petani kopi Indonesia. Perusahaan tersebut berencana mengambil kopi langsung dari petani atau melalui koperasi, sehingga rantai distribusi dapat dipangkas. “Kami ingin mengambil langsung dari petani atau koperasi petani. Kami ingin memutus rantai tengkulak atau distribusi,” kata Jan.
Menurut dia, Batavia Roast tidak semata-mata mencari kopi dengan harga murah. Kualitas, cita rasa, serta cerita di balik kopi menjadi bagian penting yang ingin ditawarkan kepada konsumen di Belanda. “Kami tidak ingin mencari harga kopi yang murah, tetapi ingin mencari kualitas, kopi yang enak dan ada cerita di balik kopi tersebut,” ujarnya.
Konsep tersebut bahkan akan diterapkan dalam kemasan produk. Batavia Roast berencana menyertakan barcode yang dapat memberikan informasi mengenai asal kopi, termasuk wajah petani dan lokasi kebun tempat kopi tersebut ditanam. Dengan begitu, konsumen di Belanda tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga mengetahui perjalanan kopi dari kebun hingga ke cangkir.
“Kami ingin dalam produk kami disediakan barcode yang berisi wajah petani dan kebun di mana kopi itu ditanam. Sehingga orang Belanda mengerti asal-usul kopi yang mereka minum,” jelas Jan.
Selain membuka akses pasar, Batavia Roast juga berkomitmen memberikan kontribusi bagi pengembangan petani kopi lokal. Dari setiap kilogram kopi yang dipasarkan, perusahaan akan menyisihkan sebagian nilai untuk mendukung peningkatan kesejahteraan dan kapasitas petani.
Jan menilai potensi pasar kopi di Belanda sangat besar. Masyarakat Belanda, kata dia, memiliki budaya minum kopi yang kuat dan kopi dapat dikonsumsi beberapa kali dalam sehari.
“Orang Belanda identik dengan minum kopi. Bisa lima kali setiap hari, dari pagi hingga malam. Jadi kopi sangat potensial dipasarkan di Belanda,” katanya.
Untuk tahap awal, Batavia Roast akan memfokuskan diri membawa kopi Indonesia, khususnya dari Jawa Timur, ke Belanda untuk kemudian dikembangkan melalui jaringan pasar di negara tersebut.
Tahun 2026 digunakan untuk melakukan pemetaan komoditas dan potensi petani, sedangkan pembelian kopi ditargetkan mulai dilakukan pada 2027. “Kami ingin menjadikan petani kopi Indonesia mendunia,” tegas Jan.
Batavia Roast juga membuka peluang untuk mengembangkan komoditas lain setelah bisnis kopi berjalan, terutama rempah-rempah yang memiliki karakter kuat dari Indonesia seperti cengkeh dan vanila.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyambut positif pertemuan tersebut. Menurutnya, Jawa Timur memiliki modal kuat untuk memasuki pasar kopi global karena menjadi salah satu sentra produksi kopi terbesar di Pulau Jawa.
Data Bank Indonesia menyebutkan Indonesia saat ini merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan produksi nasional sekitar 780 ribu ton per tahun.
“Dari jumlah tersebut, Jawa Timur menjadi sentra produksi kopi terbesar di Pulau Jawa dengan produksi sekitar 53 ribu ton per tahun. Sementara Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing berada di kisaran 25 ribu ton per tahun,” kata Adik
Sejumlah daerah di Jawa Timur juga memiliki karakteristik kopi yang berbeda. Kabupaten Malang dikenal sebagai salah satu sentra kopi terbesar melalui Kopi Dampit yang terdiri dari robusta dan arabika.
Bondowoso memiliki kopi arabika dari kawasan Ijen-Raung yang telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis. Sementara Jember dan Banyuwangi juga menjadi sentra kopi dengan produktivitas tinggi.
Adik berharap kehadiran Batavia Roast dapat menjadi pintu masuk baru bagi kopi Jawa Timur ke pasar Belanda. Apalagi, dalam pertemuan tersebut hadir pelaku usaha kopi mulai dari petani, pengolah, roaster hingga produsen kopi olahan.
Sekjen Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), Isdarmawan Asrikan, juga menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Ia mengingatkan bahwa Jawa Timur memiliki sejarah panjang dalam perdagangan kopi, termasuk sejak masa kolonial Belanda.
Menurutnya, kopi arabika yang pertama kali dibawa dan dikembangkan Belanda di Indonesia ditanam di Jawa Barat. Sementara kopi robusta kemudian berkembang di Malang.
Sejumlah perusahaan Belanda dan Inggris juga pernah membuka perkebunan kopi di Jawa Timur yang kemudian beralih menjadi perusahaan perkebunan negara.
Namun, Isdarmawan mengingatkan bahwa perkembangan kopi saat ini menghadapi tantangan berupa alih fungsi lahan. Sebagian lahan kopi mulai beralih menjadi lahan tebu, padahal permintaan terhadap kopi, baik dari pasar domestik maupun internasional, terus meningkat.
“Permintaan kopi sangat besar dan terus meningkat. Permintaan dalam negeri juga naik,” katanya.
Potensi ekspor kopi Jawa Timur juga terlihat dari kapasitas pelaku usaha yang telah berhasil menembus pasar internasional. Salah satunya Santos Jaya Abadi melalui merek Kapal Api yang telah mengekspor produk kopinya ke sekitar 60 negara.
Perwakilan Gabungan Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (GAEKI) Jawa Timur, Cholis Idham, mengatakan kapasitas ekspor kopi Jawa Timur saat ini terus berkembang. Total ekspor berbagai jenis kopi Jawa Timur disebut telah mencapai sekitar 94 ribu ton.
“Dari jumlah itu, sekitar 66 ribu ton merupakan robusta, sekitar 3 ribu ton arabika, sedangkan sisanya sekitar 25 ribu ton merupakan kopi olahan,” ujar Cholis.
Keragaman kopi Jawa Timur juga terlihat dari para pelaku usaha yang hadir dalam pertemuan tersebut. Salah satunya pengusaha kopi dari Sidoarjo yang mengembangkan kopi campuran rempah, termasuk cengkeh, serta menggunakan resep kopi khas Manado. Produksinya mencapai sekitar 450 hingga 500 kilogram per hari.
Dari Trenggalek, Tatik Susilowati membawa cerita mengenai pengembangan kopi yang berawal dari pohon-pohon robusta peninggalan Belanda.
Pada 2024, tercatat sekitar 12 ribu pohon kopi yang masih hidup dan dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari roasted bean hingga produk kopi jadi.
Sementara itu, M Alfi Dahlan dari Kopi Ledug, Pasuruan, mengembangkan kopi dari kawasan lereng Welirang. Usahanya melibatkan 22 petani dengan luas lahan sekitar 80 hektare.
Karakter geografis kawasan Gunung Welirang yang merupakan gunung api aktif dinilai memberikan cita rasa khas pada kopi yang dihasilkan.
Alfi mulai mengembangkan kopi sejak 2009, berawal dari keresahan melihat banyak kawasan hutan ditebang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat.
Dari situ, penanaman kopi dipilih sebagai salah satu alternatif untuk menjaga kawasan sekaligus meningkatkan perekonomian petani.
Kini, Kopi Ledug tidak hanya menjual biji kopi, tetapi juga mengembangkan produk roasted bean dan kopi bubuk dari jenis robusta, arabika hingga kopi luwak.
Produk premium dan specialty coffee tersebut bahkan telah menembus pasar Selandia Baru dan Jepang. “Kami berharap ke depan bisa mengirim kopi yang sudah roasted,” kata Alfi.
Potensi lain datang dari Wonosalam, Jombang, yang memiliki kekayaan jenis kopi seperti robusta, arabika, serta liberika atau excelsa. Bahkan, Jombang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi excelsa.
Karena skala produksi yang belum besar, pelaku usaha di Wonosalam memilih mengedepankan nilai tambah daripada mengejar volume. Model pemberdayaan dilakukan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga petani.
Petani laki-laki fokus pada proses tanam hingga panen, perempuan menangani sortasi, sedangkan generasi muda dilibatkan dalam proses pengolahan kopi.
Produk kopi Wonosalam bahkan telah dibawa ke Amsterdam dan diperkenalkan melalui jaringan kopi Tuku.
Sementara itu, PT Graha Rejeki Indonesia melalui merek Kopi Giras mengembangkan kopi blended dengan memadukan biji kopi dari Lampung, Malang, Bali hingga Nusa Tenggara Barat.
Perusahaan tersebut mampu memproduksi sekitar 4-8 ton kopi bubuk per hari, sekaligus mengembangkan produk roasted bean dan kopi instan yang dipadukan dengan gula aren.
Beragam potensi tersebut menunjukkan bahwa Jawa Timur tidak hanya memiliki kekuatan pada produksi biji kopi, tetapi juga mulai bergerak ke produk bernilai tambah.
Tantangannya kini adalah bagaimana memperkuat kualitas, konsistensi pasokan, sertifikasi, pengolahan, serta akses pasar agar kopi Jatim semakin mampu bersaing di pasar global.
Pertemuan dengan Batavia Roast pun diharapkan menjadi langkah awal untuk mempertemukan kekuatan tersebut dengan kebutuhan pasar Eropa.
Jika penjajakan yang dilakukan tahun ini berjalan sesuai rencana, pembelian kopi dari petani Jawa Timur akan mulai dilakukan pada 2027, membuka peluang baru bagi kopi lokal untuk semakin dikenal di pasar Belanda dan Eropa.

