
Jombang-JATIMTERKINI.COM – Menyemarakkan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Pondok Pesantren Al-Fatich Tambakberas, Jombang, menggelar Forum Diskusi dan Berbagi Inspirasi bertajuk “NU ke Depan: Saatnya Lebih Peduli pada Lansia”.
Forum ini menjadi ruang refleksi penting di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis pada Mei 2026, dari total 284,67 juta jiwa penduduk Indonesia, sebanyak 34,08 juta jiwa atau 11,97 persen berusia 60 tahun ke atas. Artinya, satu dari sepuluh penduduk Indonesia adalah lansia.
Jumlah tersebut diproyeksikan akan terus meningkat, sebagaimana proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), Bappenas, dan UNFPA. Kondisi ini menjadi tantangan serius jika masih melekat asumsi bahwa usia tua identik dengan berhentinya produktivitas. Jika tidak diantisipasi, akan terjadi bonus demografi kedua, kenaikan biaya kesehatan, penurunan produktivitas nasional, serta kesenjangan antargenerasi.
Lansia Berdaya dan Aman di Ruang Digital
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Founder Sekolah Lansia Ledokombo Jember, Farha Ciciek, membagikan praktik baik pemberdayaan lansia melalui pemutaran video Sekolah Eyang Segar bertajuk “Cucuku, Cucumu, Cucu Kita Bersama”.
Sementara itu, Inayah Sri Wardhani dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) membawakan materi “Lansia Berbudi” dengan topik “Cyber Safety: Lansia Aman Berselancar di Ruang Digital”. Ia menekankan pentingnya literasi digital bagi lansia untuk menangkal hoaks.
“Lansia berhak hadir di dunia maya, namun harus waspada agar terhindar dari ujaran kebencian dan penipuan,” ujarnya.
Inayah yang akrab disapa Ines itu menjelaskan cara mendeteksi hoaks dengan metode ABCD, yakni Amati, Baca, Cari, Diskusi, serta Wakuncar, yaitu Waspada, Kunjungi, Cari. Selain hoaks, ia juga menyoroti maraknya penipuan bermodus asmara atau love scam yang kerap menyasar lansia dan berujung pada kekerasan ekonomi.
“Sehingga penting untuk waspada dengan tidak mudah terbujuk rayuan serta pujian di media sosial,” ungkapnya.

Perlu Pondok Lansia dan Pemenuhan Hak
Dari sisi pemerintah, Kepala Dinas PPPAKB Kabupaten Jombang, dr. Eyik Mustain, menyampaikan pentingnya sosialisasi program Sekolah Tangguh Lansia (Selantang), meski saat ini masih terkendala efisiensi anggaran. Ia menekankan pentingnya pola hidup sehat bagi lansia, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi real food, dan aktif dalam komunitas.
“Penting juga mempersiapkan diri bagi yang masuk fase pra-lansia, supaya kita bisa mempersiapkan lebih awal saat masuk di segmen usia yang bikin ketir-ketir ini,” imbuhnya.
Pandangan senada disampaikan Ninid Alfatih atau yang akrab disapa Neng Ninid dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Menurutnya, menjadi tua adalah keniscayaan, namun tetap berdaya adalah pilihan yang harus diupayakan.
“Lansia yang sudah tidak produktif mau diapakan, padahal pikiran dan otak masih bisa diberdayakan. Maka pemerintah harapannya membangun panti jompo atau pondok lansia sebagai tempat berkumpul para lansia agar tetap produktif,” terangnya.
Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Anis Hidayah, menegaskan bahwa hak-hak lansia selama ini sering terabaikan. Hak atas kesehatan, pekerjaan yang layak, partisipasi, perlindungan sosial, dan tempat tinggal yang layak harus diperjuangkan secara komprehensif.
Di sisi lain, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Sri Nurherawati, menyoroti kondisi korban pelanggaran HAM berat masa lalu. Ia menyebut, 48 persen korban atau sekitar 650 orang adalah perempuan lansia yang umumnya membutuhkan layanan kesehatan, bantuan modal usaha, dukungan psikososial, hingga pengurusan jenazah.
Ia menutup dengan menegaskan tradisi NU yang memuliakan orang tua bukan sekadar merawat, melainkan memberdayakannya sebagai aset peradaban.
“Mereka adalah penjaga tradisi, sumber ilmu, dan teladan akhlak. Tua juga bukan berarti kehilangan masa muda, tapi menemukan kedalaman, setelah pernah berjuang, jatuh, dan tetap berdiri hingga akhir. Menjadi tua itu seperti buku, halamannya makin kuning, tapi makin dicari karena pengalaman serta ingatannya,” pungkasnya. (red)

