JatimTerkini.com
EkbisHeadline JTJatimTerkini

Peace Leader bersama Rumah Edukasi & Masyarakat Adat Singhasari Gelar Napak Tilas Sejarah

Pandaan-JATIMTERKINI.COM: Peace Heritage adalah gerakan anak muda yang membangun kerukunan antar umat beragama melalui pengenalan sejarah, nilai-nilai bersama dan praktik perdamaian di tempat-tempat ibadah bersejarah. Program ini dikemas dalam bentuk Heritage Peace Trip, yaitu kunjungan edukatif ke situs-situs bersejarah yang memiliki cerita tentang perdamaian, toleransi, dan kesetaraan gender di Indonesia.

Peace Leader Indonesia bersama Rumah Edukasi Creative dan Komunitas Masyarakat Adat Singhasari mengadakan Jelajah Sejarah dan Budaya ke wilayah situs Singosari antara lain Pura Bhuvana Kertha, Candi Singosari Arca Dwipala dan Candi Sumbera awan.

Dilanjutkan Bincang Budaya tentang kesetraan gender bersama Tuswati, seorang guru spiritual pendiri dan pemilik Patirtan Sumber Awan. Perempuan yang familiar dipanggil Tusi menceritakan pengalaman spiritual hingga bisa mendirikan tempat yang secara kultural menjaga relasi lintas iman serta memberdayakan masyarakat sekitar menyediakan sarana beribadah yang bisa menjadi simbol atau cara berbicara lintas iman.

Kegiatan ini dikuti mahasiswa pemuda sebanyak 65 orang lintas agama serta etis dari Singosari, Kota Malang, Madiun, yang tergabung dalam beberapa lembaga seperti Samanera dan Atasila dari STAB Batu hingga perhimpunan mahasiswa dari Sumba Sasak NTT.

Redy Saputro Ketua Peace Leader Indonesia mengatakan bahwa berbagai peninggalan sejarah di Singosari masih terawat dan menjadi bukti nyata kejayaan masa lampau. Di antaranya adalah Candi Singosari yang menjadi simbol kebesaran Kerajaan Singhasari, Patung Dwarapala yang dikenal sebagai salah satu patung penjaga terbesar di Indonesia serta Candi Sumberawan yang merupakan stupa bersejarah dan menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak bagi umat Buddha di Kabupaten Malang.

Selain itu, terdapat Pura Bhuana Kertha yang berada di Kompleks Kertanegara Lanud Abdulrachman Saleh. Pura ini dibangun sejak tahun 1975 dan hingga kini menjadi salah satu simbol keberagaman serta harmoni kehidupan beragama di wilayah Singosari dan Keberadaan berbagai situs sejarah dan tempat ibadah dari beragam tradisi keagamaan menjadikan Singosari sebagai laboratorium sosial yang ideal untuk pembelajaran tentang sejarah, toleransi, keberagaman dan perdamaian.

“Melalui interaksi dengan masyarakat lokal serta kunjungan ke situs-situs budaya dan keagamaan, peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai hidup berdampingan, penghormatan terhadap perbedaan, serta peran warisan budaya dalam membangun kohesi sosial.Kegiatan ini selaras dengan tujuan Program Peace Leader Indonesia, khususnya dalam implementasi Peace Heritage,” tegas Redy.

Peace Heritage merupakan program pembelajaran yang dirancang untuk mempertemukan pemuda dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan identitas sosial guna mengeksplorasi nilai historis dan spiritual yang terkandung dalam berbagai situs keagamaan dan budaya. Melalui kunjungan lapangan, diskusi reflektif, dialog lintas iman, serta sesi pembelajaran bersama tokoh masyarakat dan pengelola situs, peserta diajak untuk membangun pemahaman yang lebih inklusif terhadap keberagaman.

Dengan menjadikan Singosari sebagai lokasi kegiatan Peace Heritage, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai sejarah bangsa dan kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mempraktikkan nilai-nilai perdamaian, toleransi, kesetaraan dan penghormatan terhadap keberagaman. Pengalaman tersebut diharapkan mampu membentuk generasi muda yang memiliki kepemimpinan inklusif serta komitmen untuk menjaga persatuan dalam masyarakat yang majemuk.

Sementara Itu, Ketua Masyarakat Adat Singhasari, KRT. Yusuf Tanoko, S. IP mengatakan warisan leluhur yang ada di Singhasari ini perlu di rawat dan di lestarikan juga bisa sebagai sarana edukasi pada generasi muda belajar sejarah tradisi leluhur yang pernah ada di sini dan ruang belajar dialog pemuda mahasiswa dan singosari menarik bisa jadi ruang perjumpaan lintas agama melalui situs sejarah dan budaya.

“Saya bangga dan merasa gembira ketika bisa bersinergi dengan Kawan-kawan muda dan makin memperkenalkan Singhasari ke seluruh penjuru,” imbuhnya. (ines)