
Surabaya-JATIMTERKINI.COM: Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) memperkuat peran perguruan tinggi dalam pelestarian dan digitalisasi budaya melalui kegiatan Dialog Budaya bertajuk “Subasita Ing Jagad Anyar: Membumikan Aksara Jawa di Ruang Digital”, yang dirangkai dengan Lomba Menulis Aksara Jawa tingkat SMA/SMK dan umum se-Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pekan Bulan Bahasa dan Sastra 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan pada Minggu, 25 Oktober 2026, di Gedung Poncowaliko, Green Toer Lantai 8, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, menjadi momentum untuk mempertemukan akademisi, budayawan, praktisi kebudayaan, tokoh masyarakat, dan generasi muda dalam upaya menjaga keberlanjutan aksara Jawa di tengah perkembangan teknologi digital.
Melalui kegiatan ini, UWKS mendorong aksara Jawa agar tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi digital. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembelajaran, dokumentasi, dan pengenalan aksara Jawa kepada generasi muda.
Dialog Budaya Bahas Masa Depan Aksara Jawa
Dialog Budaya menjadi salah satu agenda utama yang mengangkat pentingnya pelestarian aksara Jawa di tengah perubahan zaman. Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai tantangan regenerasi pegiat budaya, penguatan literasi aksara Jawa, serta peluang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung keberlanjutan warisan budaya.
Dialog menghadirkan tiga narasumber, yakni Nanang Purwono, Ketua Puri Aksara Rajapatni; Joko Elysanto, budayawan dan praktisi aksara Jawa dari Yogyakarta; serta Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd., Kepala Pusat Studi Kewijayakusumaan LPPM UWKS sekaligus bagian dari Dewan Kebudayaan Surabaya.
Ketiga narasumber diharapkan memberikan perspektif mengenai pelestarian aksara Jawa dari sudut pandang kebudayaan, praktik penggunaan aksara, dan pengembangan program berbasis perguruan tinggi.
Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tokoh dan tamu undangan, di antaranya A.H. Thoni, Pembina Puri Aksara Rajapatni; Manoj Bhath, Konsul Kehormatan India untuk Jawa Timur; Mike Neubrie, Management Advisor Wisma Jerman; Ana Maris Van Valant, yang tercatat sebagai Direktur Network Internasional Nederland Ezia-Bahasa Belanda di Asia dan Direktur Erasmus Surabaya; Laksamana Muda Untung Suropati, Pegiat budaya Majapahit; Mas Amrih, utusan Keraton Yogyakarta Hadiningrat; serta Alvian Limardi, mantan anggota DPRD.
Kehadiran para tokoh dari berbagai latar belakang tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga warisan budaya. Pertemuan ini juga diharapkan membuka peluang kerja sama yang lebih luas untuk memperkuat pelestarian budaya Jawa, termasuk melalui pendidikan dan pemanfaatan teknologi digital.
Lomba Menulis Aksara Jawa Libatkan Generasi Muda
Selain dialog budaya, kegiatan ini dimeriahkan dengan Lomba Menulis Aksara Jawa tingkat SMA/SMK dan umum se-Jawa Timur. Lomba tersebut menjadi sarana edukasi sekaligus ruang aktualisasi bagi pelajar dan masyarakat untuk mengenal, mempelajari, dan mempraktikkan aksara Jawa.
Peserta diwajibkan mengenakan busana tradisional Jawa sebagai bagian dari upaya menumbuhkan apresiasi terhadap identitas dan tradisi budaya. Melalui kompetisi ini, generasi muda diharapkan semakin mengenal aksara Jawa dan memiliki kebanggaan untuk turut melestarikannya.
Kegiatan diselenggarakan melalui kolaborasi Pusat Studi Kewijayakusumaan dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UWKS bersama para pegiat budaya. Kolaborasi tersebut menjadi wujud kontribusi perguruan tinggi dalam menghubungkan pelestarian tradisi dengan inovasi dan perkembangan zaman.

Menghubungkan Warisan Budaya dengan Inovasi Digital
Melalui Dialog Budaya dan Lomba Menulis Aksara Jawa, UWKS berupaya memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai penggerak pelestarian budaya yang adaptif. Digitalisasi diharapkan menjadi salah satu jalan untuk memperluas pemanfaatan aksara Jawa, baik dalam pendidikan, dokumentasi, maupun pengenalan budaya kepada masyarakat luas.
UWKS berharap kegiatan ini dapat berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang berkelanjutan, melibatkan lebih banyak generasi muda, komunitas, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan.
Semangat “Subasita Ing Jagad Anyar”, UWKS mendorong aksara Jawa untuk terus hidup, berkembang, dan hadir di ruang digital sebagai bagian penting dari identitas budaya Indonesia. (**)

