
Surabaya-JATIMTERKINI.COM: Pengelolaan limbah industri masih menjadi permasalahan serius di Tanah Air. Hal itu juga yang mendasari produsen kertas dan tisu, PT Suparma Tbk untuk berkomitmen dalam optimalisasi pengelolaan limbah dan mengurangi volume sampah dan keinginan.
Atas komitmen itu, PT Suparma Tbk menjadi perusahaan manufaktur pertama di Indonesia yang menerapkan program Zero Waste to Landfill. Capaian ini ditandai dengan diterimanya Sertifikasi Zero Waste to Landfill dari lembaga sertifikasi internasional, Control Union.
Sertifikasi bertajuk “Zero Waste to Landfill: Mengubah Komitmen menjadi Dampak” diserahkan langsung oleh Direktur PT PCU Indonesia (Control Union Indonesia), Gayan Wejesiriwardana kepada CEO PT Suparma Tbk, Edward Sopanan di fasilitas produksi PT Suparma Tbk.
Sertifikasi tersebut menjadi bukti nyata komitmen PT Suparma Tbk dalam mengelola limbah produksi secara bertanggung jawab sekaligus mendorong praktik industri yang berkelanjutan di Tanah Air. Langkah ini mempertegas posisi perusahaan sebagai pelopor industri ramah lingkungan.
CEO PT Suparma Tbk, Edward Sopanan, menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. Dia menegaskan bahwa perusahaan menjadi yang pertama di industri manufaktur Indonesia yang menerima Sertifikasi Zero Waste to Landfill.
“Kami bangga bisa menjadi yang pertama di industri yang menerima Sertifikasi Zero Waste to Landfill di Indonesia. Semoga langkah ini bisa menjadi contoh best practice bagi industri manufaktur lain untuk memiliki komitmen yang sama dalam pengelolaan sampah,” ujar Edward.
Melalui program Zero Waste to Landfill, PT Suparma Tbk berhasil mengelola 99,95 persen limbah padat produksi agar tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Seluruh proses dilakukan melalui optimalisasi daur ulang, pemanfaatan kembali limbah, serta penerapan teknologi ramah lingkungan.
Program tersebut merupakan bagian dari sirkular ekonomi strategis dan komitmen perusahaan terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Dengan pendekatan ini, limbah tidak lagi dipandang sebagai sisa produksi, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
Edward menilai krisis sampah di Indonesia sudah berada pada kondisi yang cukup berat, sehingga keterlibatan sektor industri menjadi sangat penting. Menurutnya, beban TPA di berbagai daerah terus meningkat dari tahun ke tahun.
Limbah internal PT Suparma Tbk terdiri dari beberapa jenis, antara lain limbah Faba (Fly Ash dan Bottom Ash) dengan volume rata-rata mencapai 40 ton per hari. Faba merupakan material sisa padat hasil pembakaran batu bara dari proses produksi.
Selain itu, terdapat limbah plastik sekitar 20 ton per hari serta limbah organik sekitar 300 kilogram per hari. Seluruh limbah tersebut dikelola secara internal dan tidak ada yang dibuang keluar perusahaan maupun ke TPA.
Edward menjelaskan bahwa penerapan Zero Waste to Landfill bukanlah proses instan. Langkah ini telah dimulai secara bertahap sejak tahun 2020 dan mengalami percepatan signifikan pada tahun 2024.
Limbah Faba yang dihasilkan diolah dan dimanfaatkan oleh perusahaan afiliasi atau sister company PT Suparma Tbk menjadi berbagai produk konstruksi, seperti genteng, paving, pot bunga, batako, hingga bata ringan.
Sementara itu, limbah plastik konversi menjadi energi sebagai bagian dari upaya pemanfaatan limbah produksi secara maksimal. Seluruh hasil pengolahan tersebut saat ini masih digunakan untuk kebutuhan internal perusahaan.
Meski demikian, PT Suparma Tbk tidak menutup kemungkinan ke depan produk olahan limbah tersebut akan dipasarkan secara lebih luas. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menciptakan nilai tambah dari praktik bertanya.
Menurutnya, pencapaian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah berkelanjutan perusahaan untuk terus berinovasi dan berkontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Edward juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan dalam mendukung industri berkelanjutan. Dia berharap konsumen dapat lebih memilih produk, termasuk produk jaringan, yang diproduksi oleh perusahaan dengan komitmen terhadap keberlanjutan. (Res)

