JatimTerkini.com
Headline JTJatimPendidikanSurabayaTerkini

Mengawal Seni Gamelan di Sekolah: Tradisi Tidak Boleh Hilang di Tengah Perkembangan Teknologi

Mengenal seni gamelan di sekolah. (Foto: Ist)

Surabaya-JATIMTERKINI.COM: Keberadaan seni gamelan di sekolah perlu terus dikawal, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya bangsa.

Di tengah dominasi budaya populer dan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat, pembelajaran seni tradisional tidak boleh kehilangan ruang dalam dunia pendidikan. Justru sekolah harus menjadi garda terdepan dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada generasi muda.

Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd., Ketua Pusat Studi Kewijayakusumaan LPPM Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), guru ekstrakurikuler seni di berbagai sekolah, serta juri pada berbagai festival dan lomba budaya di Jawa Timur ini mengatakan, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah masih adanya sekolah yang kurang memberikan ruang bagi peserta didik yang memiliki minat dan bakat pada seni tradisi.

Pengalaman mendampingi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler serta keterlibatannya sebagai juri dalam berbagai ajang karawitan, musik tradisional, dan festival budaya membuatnya melihat secara langsung kondisi pembinaan seni tradisi di sekolah.

Bahkan, menurutnya, masih terdapat kesenjangan perhatian antara bidang seni tradisi dengan bidang prestasi lainnya.

“Selama ini kita sering bangga ketika siswa berprestasi di bidang olahraga, sains, atau teknologi. Namun ketika ada siswa yang memiliki minat pada karawitan, gamelan, atau seni tradisi lainnya, tidak sedikit yang justru kurang mendapatkan dukungan. Padahal mereka juga sedang menjaga identitas budaya bangsa,” jelas anggota Dewan Kebudayaan Surabaya ini.

Dr. Jarmani menilai, bahwa banyak siswa sebenarnya memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap seni gamelan. Hal tersebut terlihat dari antusiasme mereka saat mengikuti ekstrakurikuler maupun festival budaya.

Sayangnya, minat tersebut sering kali tidak diimbangi dengan dukungan sarana, pendampingan, dan kebijakan sekolah yang memadai. “Dalam berbagai festival yang saya nilai, saya melihat banyak talenta muda yang luar biasa. Mereka memiliki kemampuan musikal, disiplin, dan kecintaan terhadap budaya. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk berkembang dan dukungan yang berkelanjutan dari sekolah,” terangnya.

Di sisi lain, keterbatasan sarana sering dijadikan alasan untuk tidak mengembangkan pembelajaran gamelan. Padahal saat ini telah tersedia berbagai media pembelajaran digital seperti E-Gamelan dan aplikasi gamelan virtual yang memungkinkan siswa belajar mengenal instrumen, laras, dan teknik dasar gamelan melalui perangkat digital.

Ia mengatakan, alasan keterbatasan fasilitas tidak lagi sepenuhnya relevan pada era digital saat ini. “Jika belum memiliki gamelan, gunakan E-Gamelan. Jika belum memiliki pelatih tetap, bangun jejaring dengan sanggar, perguruan tinggi, dan komunitas seni. Yang tidak boleh hilang adalah kemauan sekolah untuk memberi ruang kepada anak-anak yang mencintai budaya tradisi,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui festival atau seremoni kebudayaan semata. Pelestarian harus dimulai dari ruang kelas, kegiatan ekstrakurikuler, dan lingkungan sekolah sehari-hari.

Minat siswa terhadap gamelan dan seni tradisi perlu dihargai, sebagaimana sekolah menghargai prestasi akademik maupun olahraga. Karena itu, pengawalan seni budaya di sekolah harus menjadi gerakan bersama. Sekolah, pemerintah, perguruan tinggi, komunitas seni, dan masyarakat perlu memastikan bahwa setiap anak yang memiliki minat terhadap gamelan mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Ia khawatir, jangan sampai generasi muda lebih mengenal budaya luar daripada warisan budayanya sendiri. “Ketika satu anak belajar gamelan, sesungguhnya ia sedang belajar menjadi bagian dari sejarah bangsanya. Tugas kita adalah memastikan tidak ada minat terhadap seni tradisi yang tumbuh sendirian tanpa dukungan. Seni tradisi harus hadir di sekolah, baik melalui perangkat gamelan yang nyata maupun melalui teknologi digital yang kini semakin mudah diakses,” pungkasnya. (**)