SUKSES SELENGGARAKAN PEMILU 2019, BANYAK NEGARA LAIN BELAJAR KEPEMILUAN KE INDONESIA

 

Surabaya, kpujatim.go.id- Indonesia telah berhasil dan sukses menyelenggarakan Pemilihan Umum (pemilu) Tahun 2019. Dengan adanya keberhasilan ini, dampaknya banyak negara lain belajar kepemiluan dan demokrasi ke Indonesia. Demikian disampaikan Ketua KPU RI, Arief Budiman pada forum Seminar Nasional Kepemiluan 2019, Kerjasama antara Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) dengan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia hari ini (Rabu, 6/11), di ruang Sutandio Kampus B FISIP UNAIR Surabaya.

Ketua KPU RI, Arief Budiman menuturkan cara belajar kepemiluan negara lain ke Indonesia ini secara dua arah. “Ada yang datang langsung ke Indonesia dan ada yang mengundang ahli-ahli kepemiluan Indonesia untuk datang ke negara mereka,” jelasnya (6/11/2019).

Arief mengungkapkan pula keberhasilan-keberhasilan pemilu 2019 ini diantaranya pertama, rata-rata tingkat partisipasi masyarakatnya yang melebihi target nasional dan mencapai 81,93%. Dimana terdiri tingkat parmas untuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden sebesar 81,97%, tingkat parmas untuk pemilihan DPR 81,69%, dan tingkat parmas untuk DPD sebesar 82,15%.

“Selain tingkat parmas yang naik, keberhasilan kedua, perselisihan hasil pemilu tahun 2019 juga mengalami penurunan dari pemilu sebelumnya. Total sengketa di Mahkamah Konstitusi pada Pemilu 2014 ada 808 sengketa, sedangkan pada pemilu tahun 2019 total ada 260 sengketa,” katanya.

Keberhasilan lainnya, sebagaimana disampaikan mantan Komisioner KPU Jawa Timur ini yakni efisiensi pengadaan logistik pemilu 2019. “Dengan menggunakan e-katalog Kita bisa melakukan penghematan pengadaan sampai dengan 40,1%,” kata Ketua KPU RI.

 

Meski begitu menurut Arief, memang masih ada catatan-catatan kritis dalam penyelenggaraan pemilu tahun 2019 ini.  “Seperti terbitnya Undang-undang Pemilu pada saat menjelang pelaksanaan tahapan dan adanya aturan baru terkait pelaksanaan Pemilu Serentak menjadi persoalan di level bawah. Lalu proses pendataan pemilih masih banyak mengalami kendala teknis, administratif, dan geografis. Waktu yang dibutuhkan dalam rekapitulasi manual secara berjenjang juga dianggap terlalu lama. Disatukannya 5 jenis Pemilu dalam waktu yang bersamaan menambah beban kerja penyelenggara terutama panitia ad hoc dan kerumitan pengelolaan logistik Pemilu, dan lain sebagainya, juga menjadi permasalahan tersendiri,” tutupnya.

(AACS)

Sumber : KPU Jatim

KPU Jatim pemilu Pilgub Jatim Politik

Related Post