Salah Kaprah Ketahanan Pangan

Kritik terkait konsep ketahanan panan di Indonesia disampaikan dosen pada Program Agroteknologi Universitas Brawijaya Malang. Menurut dia, kedaulatan pangan lebih masuk akal untuk diterapkan di negeri agraris seperti Indonesia.

Pernyataaan tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Gelar Teknologi Perlindungan Tanaman se Jawa Timur di Desa Besur Kecamatan Sekaran/Lamongan, Selasa (30/10).

Kerja Sama & Iklan Hubungi : 081 2310 1890 (HP/WA) Email : redaksi@jatimterkini.com

Versi Gatot, konsep ketahanan pangan tidak mempunyai roh, sehingga seolah-olah menghalalkan segala cara. Karena itu jika ketahanan terganggu, maka solusinya impor pangan.

Konsep ketahanan pangan juga menghalalkan penggunaan tanaman transgenik. “Ketahanan panganini menyebabkan ketergantungan pada produsen benih dan pestisida yang luar biasa, “ kata dia.

Dia kemudian menawarkan konsep kedaulatan pangan yang lebih masuk akal untuk negeri agraris seperti Indonesia. Lewat kedaulatan pangan, petani bisa mandiri. Sanggup memproduksi benih, pupuk dan pestisida sendiri.

“Kedaulatan pangan ini berbasis pada agro ekologi. Tidak berbeda jauh dengan Manajemen Tanaman Sehat (MTS) yang berkembang di Jawa Timur, “ ujarnya.

Melalui MTS, menurut dia Jawa Timur sudah mendahului daerah lain dalam memulai konsep kedaulatan pangan. MTS ini menurut Gatot paling khas pada aspek perencanaan dan menjadikan ketergantungan pada teknologi di nomor sekian.

Perencanaan itu meliputi tiga aspek manajemen, yakni tanah, tanaman dan organisme pengganggu tanaman.

Petani melalui MTS ini sudah merencanakan bersama sama stakeholders pertanian seperti mantri pertanian, penyuluh lapangan dan pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT) untuk musim tanam berikutnya, 1 bulan sebelum panen.

“Tujuan MTS ini untuk menghasilkan produk pertanian yang sustainable. Yakni kondisi dimana petani tidak perlu beli, tapi bisa jual. Karena mereka bisa memproduksi sendiri, mulai benih, hingga pestisidanya, “ jelasnya dalam acara yang dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Jatim Wachid Wahyudi tersebut.

Penerapan MTS ini dirasakan betul oleh petani padi di Desa Besur sehingga produksi mereka naik 100 persen. Dari produktivitas sebelumnya yang hanya 4,3 ton perhektare karena sering tersrang hama, dalam dua tahun ini menjadi 8,3 ton perhektare.

Penerapan MTS itu sebagaimana disebutkan POPT Desa Besur Khamim Ashari berawal dari dorongan Bupati Fadeli usai melakukan panen padi sehat di Desa Tejoasri Kecamatan Laren 2017 silam.

Kala itu Fadeli mendorong petani di daerah lain bisa mencontoh Tejoasri. Karena petani di tepi bengawan mati ini sudah meninggalkan penggunaan pupuk kimia serta menanam refugia yang menjadi media bagi musuh alami hama tanaman, sehingga produksinya selalu bagus.

“Kami menyadari petani itu perlu contoh nyata, agar mau beralih pada hal-hal baru yang baik seperti MTS ini. Karena itu, apa yang ada di Desa Besur ini akan diperluas, sehingga bisa menjadi contoh bagi petani lain, “ ujar Bupati Fadeli saat di Desa Besur.

Penerapan MTS di Desa Besur itu diantaranya meliputi pengolahan tanah, pembenahan kesuburan tanah dengan kompos, penanaman refugia serta penebaran kompos pada media semai.

Kemudian melakukan seleksi benih, dan aplikasi agens hayati pada pesemaian. Setelah bibit ditanam, penanaman refugia dilanjutkan, melakukan pengamatan agroekosistem (perkembangan tanaman, musuh alami, gulma dan cuaca), dan pemupukan yang dilakukan secara berkala.

Kerja Sama & Iklan Hubungi : 081 2310 1890 (HP/WA) Email : redaksi@jatimterkini.com

Sumber : Pemkab Lamongan