Produksi Obat Herbal Fitofarmaka Didorong Lebih Banyak Lagi

Alam Indonesia banyak memberikan bahan baku obat herbal tapi masih sedikit pelaku usaha farmasi yang memanfaatkan kekayaan alam itu.

“Sampai sekarang baru sekitar 300 an produsen jamu yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut” kata Drs. Tepy Usia, Apt.M.Phil.,Ph.D Direktur Standarisasi Obat Tradisional, Suplemen, Kesehatan dan Kosmetik Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan RI.

Usai menjadi pembicara dalam seminar Standarisasi Herbal, Makanan dan Minuman Sehat Indonesia di Kampus Unika Dharma Cendika Sabtu 23/02/2019, Tepy Usia menambahkan ada 9000 produk jamu berbahan herbal yang terdaftar di BPOM RI. Dari jumlah itu 62 diantaranya meningkat menjadi Obat Herbal Terstandart (OHT).

“Obat Herbal Terstandart sudah melalui uji klinis dan scientist” lanjutnya.

Sementara itu obat herbal yang sudah menjadi fitofarmaka saat ini jumlahnya 21. “Sekarang bagaimana menjadikan lebih banyak lagi OHT ke fitofarmaka sehingga bisa digunakan resmi oleh para dokter” kata Tepy.

OHT yang menjadi fitofarmaka sudah melalui berbagai uji klinis, uji kepada hewan dan bahannya sudah tersandarisasi, sudah setara dengan obat . “Sekarang bagaimana mendorong BPOM agar lebih banyak lagi fitofarmaka dengan membentuk konsorsium pengembangan dan pemanfaatan fitofarmaka” urai Tepy.

Dengan semakin banyaknya fitofarmaka nantinya diharapkan harga obat semakin terjangkau oleh masyarakat karena memanfaatkan bahan baku dari dalam negeri. Tidak seperti sekarang, masih banyak masyarakat yang mengeluhkan mahalnya harga obat karena import bahan baku obat.

Tepy menambahkan Forum itu sedang berupaya untuk menjadikan fitofarmaka sebagai obat layananan BPJS Kesehatan.

Sementara itu dikesempatan yang sama Founder Indonesian Children Care Community (IC3) Heru Prasanta Wijaya mendukung fitofarmarka diproduksi lebih banyak lagi.

“Agar lebih aman dan terjamin mutunya, karena bahan baku dari alam”

Menurut Heru sebenarnya bahan baku obat berasal dari alam. Tapi seiring berjalannya waktu kemudian dicampur oleh bahan kimia agar lebih instant.

“Seperti pupuk urea atau insectisida yang tercampur oleh bahan kimia” ujarnya.

Heru juga mengingatkan agar semua lapisan masyarakat terlibat dalan pengawasan obat dan makanan yang dikonsumsi. Jangan hanya mengandalkan BPOM.

“Semua harus terlibat, mulai dari pelaku usahanya, pemerintah, BPOM dan masyarakat, agar obat, makanan dan minuman yang dikonsumsi aman bagi kesehatan” pungkasnya.(danang)