Posting Ujaran Kebencian di Facebook, Remaja Tanggung Diamankan Polisi

85 views

Trenggalek – Seorang pria asal desa Watuagung Watulimo berinisial SDW harus berurusan dengan pihak berwajib lantaran diduga telah memposting berita hoax yang berisi kalimat bermuatan SARA dan melanggar kesusilaan. Disamping itu, postingan SDW melalui platform media sosial facebook tersebut dinilai telah mencemarkan/menyebar fitnah secara umum suatu organisasi serta diangga mengadu domba yang dapat berakibat pertikaian fisik organisasi.

“SDW diketahui menggunakan akun facebook dengan mana SHunu Annyeong Haseyo dan memposting kalimat hoax yang mengandung unsur bermuatan permusuhan antar kelompok/SARA.” Jelas Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo dalamkonferensi pers yang digelar di hamalan Mapolres. Rabu (22/05)

Dalam postingan tersebut, tersangka SDW mengunggah foto jari tangan berdarah akibat senjata tajam dan diberikan keterangan kalimat yang berbunyi “Nalar Kirek, ra sumbut karo genderomu NU Sholawatan gawanane pedang mbacok ew uwong utekke opo nek dengkol” yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti “Kelakuan anjing, tidak sesuai dengan benderanya NU sholawatan membawa pedang melukai orang lain, otaknya apa di lutut“.

Postingan pelaku dalam akun facebook tersebut selanjutnya dibaca oleh netizen. Akibat postingan hoax pelaku tersebut membuat organisasi PCNU KabupatenTrenggalek dan Tulungagung tidak terima dan melaporkan ke Polres Trenggalek.

“Kita turunkan Tim Gabungan Unit Pidsus dan Unit Resmob Satreskrim Polres Trenggalek untuk melakukan penyelidikan dan pendalaman. Kemudian pada hari Selasa tanggal 21 Mei 2019 sekira pukul 11.00 WIB, tersangka berhasil diamanakan di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.” Ungkap AKBP Didit

Selain tersangka, petugas juga mengamankan beberapa barang bukti antadiantaranya dua lembar hasil cetak tangkapan layar percakapan melalui messenger facebook dan sebuah handphone. Sedangkan terhadap SDW dijerat dengan pasal 45 ayat (1) dan (3) UURI No. 19 tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik perubahan UURI nomor 11 tahun 2008 dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.

Dalam kesempatan tersebut AKBP Didit mengingatkan kepada seluruh masyarakat Trenggalek agar tidak mudah mengunggah sesuatu di media sosial khususnya terkait dengan ujaran kebencian, berita Hoax maupun yang bertendensi SARA.

“Ada konsekuensi hukum yang harus diperhatikan. Di media sosial bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, ada aturan hukum yang mengatur dan membatasi. Ingat, Jarimu adalah harimaumu” Pungkasnya

Trenggalek

Posting Terkait