DR Erna Bayu D.CL : Alat Kontrasepsi untuk Perempuan Penderita Diabetes

DR Erna Bayu D.CL

Surabaya, jatimterkini.com – Indonesia termasuk dalam 10 negara terbesar penderita diabetes. Pada tahun 2013, penderita diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 8,5 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun (dikutip dari Federasi Diabetes Internasional).
Tetapi kurang dari 50% dari mereka yang menyadarinya. Termasuk di antaranya para akseptor KB di Indonesia. Banyak perempuan yang memakai alat kontrasepsi hormonal untuk mencegah kehamilan.
Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa alat kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko diabetes, termasuk para akseptor KB di Indonesia.

Banyak perempuan yang memakai alat kontrasepsi hormonal untuk mencegah kehamilan. Walaupun sebenarnya alat kontrasepsi hormonal aman digunakan oleh para perempuan.
Khusus untuk perempuan yang memiliki kelebihan berat badan atau kegemukan, disarankan untuk menghindari alat kontrasepsi hormonal karena alat kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko diabetes.
Jika perempuan gemuk tidak disarankan menggunakan alat kontrasepsi hormonal berbasis estrogen, karena mengakibatkan terjadinya penggumpalan darah yang membahayakan kesehatan jantung.
Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa alat kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko diabetes. Di sinilah seseorang harus bijak dalam memilih alat kontrasepsi berkenaan dengan maraknya penderita diabetes yang tidak terdeteksi.
Perempuan mengidap diabetes sering khawatir menggunakan kontrasepsi hormonal seperti pil KB dan injeksi DMPA karena tak ingin kadar gulanya meningkat. Selain terjadi peningkatan kadar gula darah, juga ditemukan mengalami penurunan kadar glukosa hingga 2%.
Semua fakta tersebut membuktikan bahwa menggunakan alat kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko diabetes untuk alat kontrasepsi berbasis progestin jenis implat.
Alat kontrasepsi hormonal meningkatkan risiko diabetes, untuk membuktikannya dilakukan penelitian oleh University of Southern California. Penelitian tersebut melibatkan sekelompok perempuan, yakni kelompok I yang menggunakan alat kontrasepsi non hormonal (kondom, sterill), kelompok II yang menggunakan alat kontrasepsi IUD berbasis progestin, dan kelompok III yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal berbasis progestin yang ditanam di bawah kulit atau implant.
Tidak banyak perempuan yang mengerti dalam penggunaan kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi tubuhnya. Apabila perempuan pengidap diabetes tidak memperhatikan alat kontrasepsi yang digunakan akan berakibat patologis dengan risiko yang di timbulkan.

Naiknya kadar hormone insulin merupakan dampak yang ditimbulkan bagi pengidap diabtes.
Untuk mengurangi dampak peningkatan kagar gula, peran petugas kesehatan dan akseptor KB sangatlah penting. Sebagai akseptor KB juga harus aktif dalam menanyakan kepada petugas kesehatan tentang alat kontrasepsi yang cocok bagi penderita diabetes.
Dokter menyarankan bagi pengidap penyakit diabetes mellitus, kontrasepsi yang diperbolehkan seperti AKDR atau alat kontrasepsi dalam rahim adalah salah satu jenis KB yang digunakan dengan memasukkan alat kontrasepsi ke dalam rahim.
Mekanisme kerja dari AKDR ini adalah mencegah bertemunya sperma dan ovum. AKDR ini tidak menyebabkan gangguan hormon sehingga aman bagi yang menderita diabetes.
Jika pasangan suami istri sudah tidak lagi menginginkan anak, dan sang istri adalah penderita diabetes mellitus, maka kontrasepsi mantap mungkin menjadi salah satu solusinya, yaitu dengan cara melakukan pembedahan dan pemotongan Tuba Falopii, yaitu saluran yang menghubungkan rongga rahim dengan ovarium, yang berperan sebagai tempat untuk memproduksi sel telur atau ovum.
Pada akhirnya hanya AKDR dan MOW (Steril) adalah alat kontrasepsi yang aman bagi penderita Diabetes Mellitus. Harapannya, ledakan penduduk bisa dihambat dengan alat kontrasepsi, dan kesejahteraan penduduk bisa dijaga hingga akhir masa. (Erna@)

DR ERNA Kontrasepsi

Related Post