Dewan Minta Dinkes Jatim Terbuka Soal Data Stunting

 

DPRD Jatim, Jatim terkini
Rendahnya serapan anggaran Dinas Kesehatan Jatim terkait penanganan gizi buruk terhadap balita (stunting) disebabkan oleh rendahnya kinerja di Dinas Kesehatan. Karenya dewan mendesak agar Dinkes blak-blakan memaparkan data yang ada.
Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Kusnadi menegaskan jika dewan sudah bersusah payah untuk menambah anggaran dalam menangani jumlah stunting di Jatim yang terus meningkat. Namun disisi lain Pemprov Jatim tidak terbuka dalam memaparkan data balita penderita stunting di Jatim.
“Ketidakjujuran dalam memaparkan data menjadi salah satu penyebab rendahnya serapan anggaran penanganan stunting oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim. Di Jawa Timur .Saya beberapa waktu lalu juga ngobrol dengan pemerintah di kabupaten Malang. Saya kaget saat mendengar stunting di Kabupaten Malang tinggi, kenapa ditutup- tutupi,” tegas politisi asal PDIP Jatim ini.
Kusnadi meminta agar Pemprov Jatim segera membuka data sebenarnya, sehingga balita penderita stunting segera bisa diselesaikan. “Janganlah data ditutup-tutupi. Terbuka saja. Karena kasus stunting merupakan pekerjaan rumah kita semua. Untuk itu perlu diselesaikan,”tegasnya
Sekadar diketahui, stunting sendiri merupakan kondisi seorang anak yang tidak mendapatkan asupan gizi yang baik atau masalah kekurangan gizi kronis pada masa awal pertumbuhannya. Umumnya, anak stunting memang berperawakan lebih pendek dari tinggi badan normal untuk anak seusianya.
Kusnadi mengaku kaget dengan laporan di berbagai daerah tentang tingginya angka balita penderita stunting. Salah satunya adalah di kecamatan Pujon,kabupaten Malang, yang selama ini menjadi daerah penghasil susu sapi. “Yang saya kaget waktu itu, stunting dibicarakan di Pujon ada seribu stunting. Kenapa saya kaget, karena Pujon pusat industri susu. Kenapa kok sampai ada stunting disana,” jelasnya.

Dinkes Jatim DPRD Jatim kusnadi stunting

Related Post