“Bidan saat ini harus Inovatif juga Kreatif, ”

1708 views

Sekertaris IBI DKK Surabaya, Istiqomah,  SSt, M.Kes

Surabaya, Jatim terkini- Menjadi bidan selama 30 bukan berarti harus stagnan dengan ilmu – ilmu lama yang jauh dari inovasi dan pengetahuan baru. Sekretaris IBI Raning DKK Surabaya Istiqomah, S St M Kes. ini memandang bidanlah yang menjadi garda depan menghadapi pasien. Sehingga knowledge, skills and attitudes harus terus berkesinambungan dan kian meningkat
Seperti yang dilakukannya selama 18 tahun menjadi bidan Praktek. Dalam kurun waktu tersebut, perempuan yang juga sebagai Dosen di fakultas ilmu kesehatan prodi kebidanan Unversitas DR Soetomo Surabaya ini mengaku lika dan liku perjalanan praktek mandiri Bidan ( PMB ) cukup beragam. Terlebih lagi lokasinya berada di wilayah yang sangat padat penduduk dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakatnya bisa dikatakan sangat minim.
Persolan yang kerap terjadi satunya ketika menangani kehamilan yang beresiko tinggi. “Disinilah peran bidan sebagai agen promotif, preventif akan kesehatan dituntut tanggap dan inovatif dalam menghadapi situasi. Profesionalisme penanganan sangat dituntut dalam mengahadapi masalah seperti ini.”tuturnya
Bidan Puskesmas Sidotopo Surabaya ini juga menjelaskan salah satu upaya peningkatan mutu layanan inovatif yang sudah ia terapkan di praktek mandiri Bidan ( PMB ) yaitu, membuat kelas ibu hamil. Dalam program para ibu hamil akan di edukasi bagaimana kiat – kiat menjaga kehamilan, perencanaan persalinan hingga pengetahuan pentingnya asi exsklusif.
Program lainnya yaitu memberikan penyuluhan pada ibu hamil dan para balita. “ Kegiatan ini sebagai monitoring perkembangan yang dilakukan 3 bulan sekali.” terangnya
Program yang tak kalah inovatifnya yaitu memberikan layanan baby SPA. Progam ini merupakan salah satu bentuk dari terapi sentuh dan swimming (renang) yang berfungsi sebagai salah satu tekhnik pengobatan penting. Baby spa ini pijat, renang, dan senam bayi
Disisi lain selain inovatif dalam profesi Istiqomah juga mengatakan seorang bidan juga bisa saja memiliki jiwa dalam berwirausaha atau yang sering dikenal dengan bahasa kerennya adalah menjadi Enterpreneurship. Enterpreneurship sekarang yang saat ini ia kembangkan dalam 3 bulan terakhir, usaha kecil chatering dan bakery . ” Ya, saya lagi kembangkan jajanan yang sedang digemari banyak kalangan yaitu Donat dan bakery, dengan model dan ragam yang menarik tapi sehat.” tambahnya
Donat dan bakery dengan berbagai varian topping yang tak kalah empuk dan enak yang dibuatnya, Istiqomah mengaku pengembangan usaha sampingan ini ia kerjakan bersama – sama keluarga. “ Saya sendiri bertugas sebagai quality kontorlnya. Sedangan anak dan bapak yang membuatnya, namun resep tetap saya yang menyiapkan.” paparnya
Karena sebagai tenaga kesehatan Istiqomah mengaku soal bahan tak main -main. Ia selalu mengutamakan bahan yang aman dan berkualitas.” Jajanan yang saya buat ini saya jamin aman untuk anak hingga orangtua.” ucapnya.
Sementara dari sisi profesi perempuan murah senyum ini yang mengeluti profesi bidan selama 30 tahun ini menandaskan seiring perubahan dan perkembangan zaman yang terus menuntut adanya pelayanan kesehatan kian maju. Tuntutan mengembangkan dan memajukan kualitas pelayanan kesehatan suatu hal yang wajib dilaksanakan. Ini tak lain sangat berguna untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak, serta dapat meningkatkan kesehatan ibu dan anak.
Untuk memenuhi hal tersebut tentu diperlukan bidan yang menguasai kompetensi. Sedangkan saat ini bisa dikatakan masih banyak Bidan yang belum memenuhi syarat tersebut karena latar belakang tingkat pendidikan yang berbeda-beda, kualitas lulusan yang minimal, dan sikap profesionalisme yang kurang serta pelayanan yang tidak sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.
“ Selalu memperbaharui pengetahuannya melalui jalur pengembangan pendidikan ini sangat penting. Mengingat masih banyaknya keterbatasan yang dimiliki sebagaian besar bidan, seperti keterbatasan pengetahuan terkini, penguasaan IPTEK hingga tingkat pendidikan.” tuturnya
Istiqoma menjelaskan untuk bisa menjadi Bidan Delima tentu harus melakukan standarisasi keahlian, kompetensi, peralatan, sarana dan prasarana serta manajemen klinik agar sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan RI.
“Wacana ke depan tahun 2020 minimal praktek lulusan D4/SI kebidanan. Bahkan tahun 2030 dan isunya tahun 2025 praktek mandiri Bidan adalah lulusan S2 kebidanan, setelah itu tidak bisa buka praktek kalau tidak memenuhi hal itu,” terangnya
Oleh karena itu, sebagai salah satu team fasilitator Bidan delima Istiqoma mengaku akan terus monitoring para bidan, khususnya bidan – bidan praktek mandiri. Ini agar para bidan mengetahui apa – apa yang menjadi sarat memenuhi kualitas bidan masa kini yang sesuai dengan strandart AD/ART
Sebagai upaya mempercepat target 2020 seluruh bidan harus S1/D4, pihaknya akan terus melakukan verifikasi para bidan yang lulusannya dibahwa itu. Untuk bidan PNS, pihaknya memfasilitasi dan memberi kesempatan mereka untuk melajutkan pendidikannya ke S1 selama satu tahun. “Sementara bagi bidan swatsa akan didorong untuk ikut program khusus sekolah lanjutan. “ tutupnya (soni/kurniawan)

bidan/dkk surabaya

Posting Terkait